Penyusunan Tools Survei Terkait Pengelolaan Sungai Winongo

datasajaRESPECT Satellite Office diundang untuk terlibat secara aktif dalam diskusi yang bertajuk pemberdayaan masyarakat pinggiran Sungai Winongo. Serial diskusi ini langsung diinisiasi oleh Forum Komunikasi Winongo Asri (FKWA) dengan tujuan utama merancang sebuah agenda aksi untuk memproduksi dan mereproduksi pengetahuan terkait pengelolaan Sungai Winongo.

Diskusi antar-komunitas ini sudah dilaksanakan sebanyak tiga kali. Pertemuan perdana yang berlangsung di Sekretariat Satunama (Rabu, 17/5), menghasilkan sebuah kesadaran bersama tentang minimnya literatur dan dokumentasi mengenai kondisi terkini Sungai Winongo. Hal ini berakibat pada dua hal. Pertama, aktivisme FKWA selama ini menghadapi masalah keterbatasan data yang akuntabel dan akurat sebagai basis membangun klaim publik terkait kondisi dan potensi Sungai Winongo. Kedua, minimnya pengetahuan dan rasa kepemilikan warga terhadap Sungai Winongo karena pengetahuan tersebut tidak berasal dari masyarakat sendiri, melainkan dari pihak luar atau sebagian kalangan saja. Padahal, pengetahuan yang dibentuk secara partisipatif adalah instrumen penting bagi komunitas untuk berubah dan berkembang.

Sadar akan kekurangan ini maka pada rapat selanjutnya yang berlangsung di Sekretariat Walhi Yogyakarta (Jumat, 16/6), para peserta mengusulkan untuk membuat baseline data berupa dokumentasi data fisik dan non-fisik sungai. Data-data ini menjadi penting sebagai basis bagi FKWA untuk menginisiasi kegiatan-kegiatan pemberdayaan, menakar perkembangan kondisi sungai dari waktu ke waktu, serta meningkatkan partisipasi dan rasa kepemilikan masyarakat terhadap sungai. Lebih jauh, baseline tersebut meletakkan Sungai Winongo tidak semata-mata sebagai realitas fisik, namun sebagai hasil dari cara pandang dan dinamika masyarakat yang hidup di sekitarnya.

FKWA memberi tanggung jawab kepada RESPECT Satellite Office dan Yayasan Satunama untuk memotori kegiatan penyusunan baseline data tersebut. Itulah sebabnya dalam pertemuan terakhir yang diselenggarakan di Fisipol UGM (Kamis, 20/7), RESPECT Satellite Office dan Satunama mempresentasikan rancangan toolkit dan mendiskusikan mekanisme teknis survei—termasuk membahas rencana aksi komunitas setelah kegiatan penyusunan baseline data selesai.

Selain membahas hal-hal teknis, forum diminta untuk mendiskusikan juga isu terkait kesehatan sungai dan partisipasi politik masyarakat lokal. Kedua isu ini merupakan hasil temuan penting dari kegiatan mini-research yang pernah dilakukan oleh mahasiswa Osaka University dan Fisipol UGM pada bulan Februari 2017. Riset mini tersebut merupakan bagian dari kegiatan field-visit ke wilayah-wilayah yang rentan terhadap bencana alam dan sosial. Hasil temuan mereka menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat di salah satu RW—yang dipilih sebagai sampling—belum memiliki kesadaran penuh untuk menjaga dan merawat sungai. Hal ini terbukti dari perilaku mereka yang tidak ramah terhadap kebersihan lingkungan sungai, seperti: membuang sampah sembarangan, membangun jamban di pinggiran sungai, merusak sepadan, dan sebagainya. Kondisi ini semakin memprihatinkan ketika mereka juga belum pernah mendapat sosialisasi atau training-training tentang cara merawat sungai. Partisipasi masyarakat untuk mengelola sungai dinilai masih sangat minim—begitu juga pemerintah. Karena itu dengan survei awal ini, semua peserta forum yakin bahwa pengelolaan sungai Winongo ke depan akan menjadi lebih baik, terarah dan terukur.

Simulasi Aplikasi CARED Tahap Awal

Simulasi CAREDSetelah melalui proses pengembangan, pemeliharaan, dan upgrade selama beberapa tahun, aplikasi CARED akhirnya dinyatakan siap untuk digunakan dalam skala yang lebih luas. Namun sebelum itu, pihak RESPECT Satellite Office (RSO)—merasa perlu—mengadakan simulasi awal untuk mengevaluasi sistem dan teknik aplikasi. Hal tersebut penting dilakukan untuk memastikan aplikasi dapat bekerja dengan baik dan terhindar dari persoalan-persoalan teknis. Fitur-fitur penting yang mengalami proses uji coba adalah Safety Confirmation, Disaster Report, dan Panic Button.

Sebagai tahap awal, simulasi dilakukan oleh staff peneliti Institute of International Studies (IIS) sebanyak 27 orang. Kegiatan simulasi diawali dengan technical meeting di Ruang Rapat IIS (22/5/2017) yang dihadiri oleh staff RSO, Gamatechno, dan para peneliti IIS. Dalam pertemuan tersebut, Kristin Budiarti dan pihak Gamatechno menjelaskan beberapa hal teknis terkait penggunaan aplikasi CARED, cara pengoperasiannya, dan pembagian waktu simulasi. Semua peserta yang hadir sangat antusias mendengarkan penjelasan dan pengarahan dari pihak RSO dan Gamatechno. Melalui kesempatan ini, pihak Gamatechno langsung mengarahkan masing-masing volunteer untuk menginstall aplikasinya dan melakukan registrasi awal. Semuanya berjalan lancar, tanpa ada kendala-kendala teknis.

“Proses install dan registrasi awal sangat mudah. Saya dulu pernah menginstallnya, namun seringkali error dan rumit sekali proses pendaftarannya, sehingga saya tidak menggunakannya. Tapi kali ini sudah lebih sederhana dan prosesnya cepat dan gampang,” ujar salah seorang volunteer yang tidak mau menyebutkan namanya.

Simulasi dilakukan selama satu minggu, yakni mulai Selasa, 23 Mei – Senin 28 Mei 2017. Kegiatan tersebut berjalan lancar. Masing-masing volunteer melakukan simulasi berdasarkan jadwal penggunaan fitur yang telah disepakati. Selama proses itu berlangsung, pihak Gamatechno terus memantau dan merespons kendala-kendala teknis yang muncul. Misalnya, fitur panic button yang terkadang crash, ketidaktepatan lokasi pengguna aplikasi saat melaporkan informasi bencana, dan email list tidak muncul saat hendak melaporkan informasi bencana. Semua kendala tersebut langsung ditanggapi secara cepat oleh Gamatechno berdasarkan catatan dari para volunteer.

Terkait proses simulasi—ada saran dari volunteer agar kegiatannya dilakukan dengan menggunakan sistem transmisi data dua arah. Artinya ketika seseorang melaporkan kejadiannya—entah itu konfirmasi keselamatan, laporan bencana, maupun kondisi panik—perlu ada respons balik dari penerima informasi. Dengan demikian kita bisa tahu seberapa tepat informasi kita sampai ke orang yang dituju, dan seberapa cepat informasi itu sampai dan direspons oleh penerima data. Ini penting untuk diketahui agar aplikasi tersebut bisa bekerja efektif dan betul-betul berguna untuk mencegah terjadinya bencana. Harapannya, pada tahap selanjutnya, kegiatan simulasi bisa berjalan lancar dan sedapat mungkin meminimalisir adanya kendala-kendala teknis.

image-appDownload CARED

Multi platform - Android, Blackberry, iOS.

Pengunjung

Hari ini3
Total76043

Visitor IP : 54.224.49.217 Sabtu, 23 September 2017 11:06
Powered by CoalaWeb